|
Aksesori,
Elemen Estetis Pendukung Interior
ANDREAS
LARATSEMI
Pada
ruang-ruang publik mungkin tidak begitu terasa adanya sentuhan yang
bersifat personal pada penataan interior. Ini berbeda dengan ruang
di rumah atau instansi tertentu yang memang sengaja memberikan sentuhan
khusus. Sesuatu yang khas dan bisa dianggap mewakili, menjiwai,
atau menonjolkan citra sesuai dengan latar belakang pemilik atau
pemakai ruang.
Banyak
faktor pendukung yang dapat menciptakan citra atau rasa yang ingin
dihadirkan dalam penataan ruang. Salah satunya adalah elemen estetis
sebagai sentuhan guna memberi warna dan nuansa yang ingin dicapai
pemakai atau pemiliknya.
Elemen
estetis ini bisa berupa hal yang bersifat pribadi maupun universal.
Ini berlaku untuk permainan warna, motif, maupun ukiran atau relief.
Unsur-unsur tersebut bisa terdapat pada fisik ruangan, komponen
interior, maupun aksesori yang berfungsi sebagai elemen estetis
pendukung interior.
Umumnya
aksesori yang digunakan memiliki unsur seni yang disesuaikan dengan
selera dan pribadi pemiliknya. Akan tetapi, dalam pemilihan aksesori
dan peletakannya pun, sebaiknya diperhatikan dan dipertimbangkan
beberapa hal. Ini demi memaksimalkan tujuan peletakan aksesori tersebut.
Jangan
sampai peletakan aksesori justru tak memunculkan citra yang ingin
ditampilkan, atau malah mengakibatkan penataan ruangan terasa janggal.
Aksesori merupakan salah satu unsur interior yang paling terakhir
dipikirkan. Umumnya, dalam pemilihan dan penataan aksesori, pemilik
atau pemakai ruang yang lebih berperan.
Tema
dan warna
Hal-hal
yang sebaiknya menjadi pertimbangan seseorang dalam memilih aksesori
adalah tema, gaya, warna, ukuran, dan jumlah. Tema merupakan hal
utama yang sangat menentukan pantas atau tidaknya unsur tersebut
dipadukan dalam sebuah penataan interior.
Memang
tidak selalu Anda harus memilih tema yang sama dengan interior,
tetapi setidaknya aksesori tersebut bisa sesuai dengan tema interior
lain yang mendominasi ruangan. Contohnya, dalam penataan interior
modern bergaya minimalis dimasukkan unsur etnik pada aksesori berupa
vas bunga atau pigura.
Adapun
gaya adalah unsur yang lebih spesifik daripada tema. Seperti tema
tradisional bisa bergaya Jawa, Toraja, atau Minang. Orang juga bisa
memilih tema klasik, misalnya dengan gaya Rococo, Baroque, atau
Renaissance.
Jadi,
memilih gaya juga sangat penting Anda tentukan, terutama pada ruang
yang bertema klasik dan tradisional. Oleh karena kedua gaya tersebut
biasanya memiliki filosofi yang lebih mendalam.
Jangan
sampai terjadi, misalnya, orang menentukan ukiran bergaya Jawa pada
interior tradisional bergaya Bali. Atau, sekadar melihat gaya klasik,
kemudian seseorang meletakkan lukisan dari zaman yang berbeda dengan
gaya klasik tersebut. Hal itu bisa sangat mengganggu, bahkan merusak
perancangan interior.
Di
samping itu, sebuah wujud kesatuan dalam desain tak lepas dari warna,
selain bentuk, tema, dan gaya. Warna dapat menyatukan beberapa unsur
yang berbeda dalam satu perancangan.
Selain
pertimbangan dari desainer interior atau orang yang berkecimpung
dalam dunia seni rupa, Anda juga dapat berpatokan pada panduan memilih
kombinasi warna yang tepat dari buku-buku colour guide. Bila Anda
memiliki warna-warna favorit yang sedikit mencolok, bisa tetap menampilkannya
sebagai aksen dalam ruang. Tentu saja warna itu tetap harus diatur
komposisi dan intensitas warnanya supaya tak terlalu mendominasi
keseluruhan bidang.
Pada
beberapa gaya atau tema penataan interior, ada kecenderungan untuk
tak menggunakan banyak komposisi warna yang beraneka ragam. Ini
perlu Anda perhitungkan pula agar keberadaan aksesori tidak malah
mengubah tujuan perancangan yang ingin dicapai.
Sesuaikan
dengan ukuran ruang
Aksesori
harus disesuaikan dengan ukuran ruang dan ukuran komponen interior
yang dipergunakan dalam peletakan aksesori tersebut, seperti meja,
rak, lemari, credenza, atau console. Aksesori sebaiknya tidak berukuran
besar, karena fungsinya sebagai elemen estetis sehingga porsi ukurannya
tidaklah dominan.
Terkecuali
pada hal-hal tertentu aksesori bisa dibuat dan dipilih berukuran
besar, antara lain pada ruangan yang berukuran besar, juga bila
Anda memang menginginkan aksesori tersebut menjadi icon atau simbol
yang ingin ditonjolkan.
Selain
ukuran, aksesori yang diletakkan dalam sebuah ruangan juga perlu
diperhitungkan jumlahnya. Apakah Anda sampai merasa perlu meletakkan
aksesori yang sama dalam satu ruang? Kalaupun ya, sampai seberapa
banyak jumlahnya?
Anda
juga perlu mempertimbangkan berapa jenis dan berapa jumlah yang
sekiranya pantas dan layak diletakkan. Jangan sampai Anda terpancing
secara emosi karena kebetulan aksesori tersebut sangat disukai,
sedang tren, atau demi sebuah idealisme. Itu bisa Anda lakukan bila
aksesori bukan sebagai elemen estetis pendukung perancangan interior.
Misalnya
aksesori tersebut fungsinya sebagai benda koleksi, piala dan piagam,
cenderamata acara serta perjalanan penting yang pernah Anda lakukan,
hingga memberi kenangan dan kebanggaan pribadi, sebaiknya diletakkan
dalam ruang yang memang dibuat khusus untuk itu. Dengan demikian,
aksesori "khusus" tersebut tak mengganggu kenyamanan dan keindahan
fungsi ruang lain.
Ukuran
dan jumlah merupakan faktor yang menentukan dalam peletakan aksesori.
Namun, perlu diperhatikan pula fungsi aksesori, apakah murni sebagai
elemen estetis yang bersifat benda pajang, atau dipergunakan dan
berfungsi sesuai dengan peletakan. Seperti asbak di atas meja yang
memang sengaja difungsikan sebagai tempat abu rokok. Aksesori itu
akan berbeda fungsinya bila diletakkan dalam lemari pajang tertutup
kaca.
Terakhir,
adalah unsur rasa dan selera. Tak ada acuan teori dan teknik yang
pasti dalam hal ini. Akan tetapi, kalau Anda tak yakin, bisa minta
pertimbangan orang lain yang mengerti keinginan Anda sekaligus paham
soal penataan interior.
ANDREAS
LARATSEMI SSn Desainer Interior - Sumber: KCM
|